AKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN DALAM PENGMAS GORONTALO

By muhammad pahlevi On Rabu, November 29 th, 2017 · no Comments · In

 

Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga untuk kesekian kalinya dalam tahun 2017 melaksanakan kegiatan pengabdian kepada mayarakat (Pengmas).  Tidak hanya diselenggarakan di wilayah lokal dan Jawa Timur yang digarap oleh FPK, tetapi juga di luar Jawa, yaitu Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Sulawesi. ”Strategi Manajemen Budidaya Perikanan dan Pengolahan Ikan Menjadi Produk Multiguna Berbasis Zero Waste” diangkat sebagai tema Pengmas di Kabupaten Gorontalo.  Pembukaan kegiatan Pengmas Fakultas Perikanan dan Kelautan telah disampaikan secara langsung oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo, Abdulbar Yahya.  Kedatangan Tim Pengmas FPK UNAIR disambut baik oleh beliau, bahkan dalam sambutannya, beliau menyatakan kedatangan Tim dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga untuk melakukan pengabdian masyarakat adalah yang pertama setelah ada perjanjian kerja sama antara Universitas Airlangga dengan Kabupaten Gorontalo pada tahun 2016.

 

”Jumlah nelayan di Kabupaten Gorontalo kurang lebih 3000 orang tersebar di tiga Kecamatan dan di Limboto yang merupakan ibu kota Kabupaten Gorontalo. Kabupaten Gorontalo memiliki 19 Kecamatan dan 205 desa.  Pelaku usaha budidaya lebih dari 300 KK, umumnya dengan keramba jaring apung (KJA) di Danau Limboto yang luasnya ± 3000 Ha. Usaha budidaya KJA di Danau Limboto mulai berkembang sejak tahun 1995.  Salah satu penyebab percepatan pendangkalan Danau Limboto adalah adanya kegiatan budidaya KJA, sehingga Dinas Perikanan mencoba mengalihkan kegiatan budidaya ke kolam yang dibangun di sekitar Danau Limboto. Masyarakat menggunakan kolam untuk budidaya lele dan peminatnya cukup besar.  Pelaku usaha pengolahan hasil perikanan di Kabupaten Gorontalo ada 6 orang dan memang memerlukan binaan untuk pengembangan usaha terkait dengan kualitas”, ungkap Kepala Dinas Perikanan Gorontalo dalam sambutannya.

 

Selain pelaku usaha budidaya dan pengolahan ikan, hadir juga para penyuluh baik non PNS (5 orang) maupun PNS (6 orang) dari Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo.  Topik manajemen budidaya disampaikan oleh Bapak Prayogo, S.Pi., MP dan topik pengolahan ikan menjadi produk mutu disampaikan oleh Bapak Heru Pramono, S.Pi., M.Biotech, keduanya adalah Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan. Kegiatan berlangsung di aula Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo dan dilanjutkan di lapang bagi pelaku usaha budidaya. Saat kunjungan ke lapangan, pelaku usaha budidaya lele mengeluhkan penyakit yang menyerang lele pada kolam yang mendapat pakan cacing Tubifex. ”Sebelum cacing diberikan ke ikan lele perlu dilakukan treatmen dengan air bersih sehingga bakteri Aeromonas yang terbawa oleh cacing dapat berkurang dan treatmen semacam itu merupakan bagian dari manajemen budidaya untuk menghindari penyakit pada ikan”, ungkap Prayogo kepada pelaku usaha budidaya.

 

Bagi pelaku pengolahan ikan, praktek membuat produk olahan surimi berbahan baku ikan laut dan tawar dilakukan di aula Dinas Perikanan.”Produk olahan surimi dapat diolah lagi menjadi nugget, stik ikan, bakso ikan. Kulit ikan dapat diolah menjadi kerupuk ikan, tulang ikan dapat dihancurkan menjadi stik ikan”, ungkap Heru Pramono di sela-sela penyampaian materi dan praktek pembuatan surimi.  Ibu-ibu pelaku usaha pengolahan sangat antusias mendengarkan arahan bagaimana memisahkan daging dari kulit dan tulang ikan untuk membuat surimi dan berusaha untuk praktek dan mereka juga merasakan enaknya nugget hasil olahan dari surimi. ”Rasanya sudah gurih, padahal tidak mendapatkan tambahan micin” komentar salah seorang peserta. Pada akhir acara, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo ingin pelaku usaha pengolahan dapat menampilkan hasil pelatihan dengan Tim dari Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR dalam pameran pangan  di Gorontalo pada tanggal 23 November.

 

Penulis: Wahju Tjahjaningsih

Editor : Heru Pramono

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *